BICARADATA.CO, SOSOK – Sebagai pribadi yang aktif larut malam, saya bukan penggemar wawancara yang digelar pagi hari. Macet menjadi momok utama. Warga Bekasi, Jawa Barat, pasti paham betul konsekuensinya jika terlambat lima menit berangkat dari rumah saat jam sibuk. Bila bertemu narasumber, saya selalu mengupayakan pertemuan digelar seusai makan siang atau sekalian malam hari.
Namun kelonggaran waktu sepenuhnya adalah hak prerogatif Tuhan dan narasumber. Merekalah yang menentukan kapan kami harus hadir. Pada Sabtu pagi, 11 Juli 2026, kami harus melakukan wawancara dengan mantan Wakil Ketua Future Forward Party yang juga aktivis muda Thailand, Kunthida Rungruengkiat.
Jadwal tersebut tidak bisa ditawar karena Kunthida yang tengah menjalani sanksi larangan berpolitik selama sepuluh tahun—harus segera kembali ke Bangkok pada siang harinya. Saya tak boleh menyia-nyiakan momentum untuk berdialog dengan perempuan yang berperan sebagai oposisi dan aktif membina generasi muda serta kaum hawa itu.
Saya tiba tepat waktu di sebuah hotel di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Saya bertanya kepada redaktur meja Wawancara Tempo, Friski Riana, apakah wawancara diadakan di lobi atau restoran? Jawabannya cukup membuat kesal. Lokasi wawancara berpindah ke sebuah restoran di luar hotel. Dia lupa mengabari di grup WhatsApp.
Setengah panik, saya pun memesan ojek online. Jaraknya tidak begitu jauh. Namun saya harus memutar arah dan melewati delapan persimpangan lampu lalu lintas. Saat kondisi begini, biasanya muncul bisikan godaan: memohon dengan baik kepada sang pengemudi agar bersedia melanggar aturan dengan berputar balik. Siapa tahu dia tersentuh.
Saya tetap berpegang pada prinsip: jika bisa, jangan langgar aturan berkendara. Kalau pun terpaksa melanggar, biarlah inisiatif untuk mempercepat perjalanan itu datang dari pengemudi itu sendiri. Namun si driver terlihat santai saja mengikuti isyarat lampu lalu lintas. Saya cuma bisa berteriak dalam hati, “Woi, Pak… telat nih….”
Benar saja, saya datang terlambat sekitar 30 menit. Di dalam ruangan, Friski memasang tampang poker face. Membuat saya ingin menjitak kepalanya. Mempermainkan orang tua. Untungnya, wawancara berbahasa Inggris itu belum lama dimulai sehingga saya bisa langsung menyela dan bergabung.
Selama hampir dua jam, Kunthida memaparkan perkembangan politik di Thailand yang memiliki banyak kemiripan dengan Indonesia. Salah satunya adalah soal militerisme. Thailand masih berada dalam kendali junta militer. Sedangkan di Indonesia, warga sipil pun diseragamkan dengan pakaian loreng. Ya, kan?
Kunthida juga bercerita tentang pergerakan anak muda di Thailand yang berambisi mendorong perubahan. Melalui beragam aksi, mereka berhasil meraih kepercayaan publik yang sebelumnya apatis terhadap dunia politik. Namun jalan mereka tidak pernah mulus. Partai Kunthida dibubarkan pada Februari 2020.
Di Indonesia, seperti yang sempat saya sentil dalam beberapa edisi newsletter sebelumnya, gerakan anak muda, termasuk generasi Z, juga kian marak muncul. Memang masih bersifat sporadis. Tapi kehadiran mereka bisa menjadi oksigen bagi para pendukung demokrasi.
Anda bisa menyimak hasil wawancara dengan Kunthida dalam artikel berjudul “Generasi Muda Lebih Siap Melakukan Perubahan”. Selamat menikmati bacaan. Oh ya, saya tidak jadi menjitak Friski. Dia sudah menyampaikan permintaan maaf. Lagi pula, di lingkungan Tempo, berkata “bajingan” ke anak buah saja tidak diperkenankan, apalagi memukul.
Editor: Redaksi


