BICARADATA.CO, OPINI – Setiap kali isu megathrust kembali muncul, respons publik hampir selalu sama. Kekhawatiran meningkat, media ramai memberitakan, simulasi kebencanaan kembali dibahas, lalu perlahan semuanya mereda. Beberapa minggu kemudian, kehidupan berjalan seperti biasa. Padahal ancamannya tidak pernah benar-benar pergi.
Indonesia bukan kekurangan peringatan. BMKG sejak lama mengingatkan bahwa negeri ini berada di atas wilayah tumbukan lempeng, dengan sedikitnya lima zona subduksi yang berpotensi memicu gempa besar. Zona megathrust membentang dari barat Sumatera, selatan Jawa, hingga wilayah timur Indonesia, sehingga ancamannya bukan sesuatu yang abstrak, melainkan bagian dari kenyataan geologis yang menyertai hidup kita sehari-hari.
Sepanjang 2024 dan 2025, pemerintah, BMKG, dan BNPB tidak berhenti menguji kesiapsiagaan. BNPB menggelar Apel Kesiapsiagaan dan Simulasi Kesiapan Menghadapi Megathrust di sejumlah daerah rawan, sementara pada September 2025 BMKG memimpin IOWAVE25 dengan skenario gempa Magnitudo 9,0 di zona Megathrust Selat Sunda untuk menguji apakah peringatan dini benar-benar diterima, dipahami, dan ditindaklanjuti masyarakat pesisir.
Namun di tengah semua itu, masih ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah semua pengetahuan itu sudah berubah menjadi kesiapan yang nyata?
Di sinilah letak persoalannya. Kita sering mengira bahwa karena ancaman telah diketahui, maka kita sudah cukup siap. Padahal pengetahuan, pemahaman, dan kesiapsiagaan adalah tiga hal yang berbeda. Mengetahui ancaman belum tentu membuat kita bertindak benar saat situasi darurat datang.
Ironisnya, ancaman yang paling berbahaya sering kali bukan ancaman yang tidak diketahui, melainkan ancaman yang terlalu sering diingatkan sehingga kehilangan kemampuannya untuk menggugah tindakan.
Ilusi kesiapsiagaan lahir justru ketika ancaman terlalu sering dibicarakan, tetapi tidak kunjung hadir dalam pengalaman langsung. Ancaman yang awalnya menimbulkan kewaspadaan perlahan kehilangan daya kejut. Pengumuman keselamatan terdengar seperti suara latar. Jalur evakuasi dipasang, tetapi tidak lagi benar-benar diperhatikan. Peringatan berubah menjadi kebiasaan mendengar, bukan kebiasaan bersiap.
Di titik inilah normalcy bias bekerja. Sederhananya, manusia cenderung percaya bahwa masa depan akan berjalan seperti masa lalu. Karena hari ini aman, besok dianggap aman. Karena tahun-tahun terakhir tidak terjadi gempa besar di tempatnya, ancaman terasa jauh. Akibatnya, persiapan sering ditunda. Tas siaga bencana dianggap penting, tetapi belum juga disiapkan. Rencana evakuasi keluarga dianggap perlu, tetapi tidak pernah dibicarakan serius. Daerah rawan gempa diketahui, tetapi latihan menghadapi gempa jarang dilakukan.
Padahal sejarah bencana justru sering menunjukkan hal yang sebaliknya. Tragedi besar kerap datang ketika orang merasa semuanya normal. Saat itulah manusia paling rentan terlambat bereaksi. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena terlalu lama hidup bersama rasa aman yang semu.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh diukur dari seberapa banyak kita mendengar kata megathrust, melainkan dari seberapa jauh pengetahuan itu masuk ke dalam kebiasaan. Kesiapsiagaan yang sesungguhnya hadir ketika keluarga mengetahui titik kumpul, sekolah rutin berlatih, warga memahami jalur aman, dan masyarakat tidak panik saat sirene berbunyi. BMKG sendiri berulang kali menekankan bahwa peringatan dini harus berubah menjadi tindakan dini. Teknologi dapat memberi alarm, tetapi tidak dapat memindahkan orang ke tempat aman.
Ilusi kesiapsiagaan menjadi semakin relevan ketika kita melihat berbagai peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Pada April 2026, gempa besar di Laut Maluku Utara sempat memicu peringatan tsunami dan menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah. Dua bulan kemudian, gempa kuat di Filipina kembali memunculkan peringatan dini tsunami yang berdampak hingga Indonesia timur. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman seismik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita.
Namun menariknya, setiap kali peringatan berakhir dan keadaan kembali normal, perhatian publik juga perlahan menghilang. Kesadaran meningkat saat ancaman datang, lalu menurun ketika ancaman berlalu. Siklus inilah yang membuat kesiapsiagaan sering kali bersifat sesaat, bukan menjadi kebiasaan yang bertahan lama.
Indonesia tidak bisa memilih untuk menghapus ancaman megathrust. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi daya rusaknya. Itu berarti membangun budaya kesiapsiagaan yang tidak berhenti pada poster, simulasi, atau berita singkat setelah gempa terjadi. Budaya itu harus hidup di rumah, sekolah, kantor, dan ruang publik. Harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan.
Megathrust mungkin tidak terjadi hari ini, bulan depan, atau bahkan tahun depan. Namun kesiapsiagaan tidak dibangun pada saat sirene berbunyi, melainkan jauh sebelum itu. Sebab ketika bencana datang, yang diuji bukan seberapa banyak informasi yang kita miliki, melainkan seberapa jauh informasi itu telah menjadi kebiasaan. Dan di situlah batas tipis antara kesiapan dan ilusi kesiapsiagaan.
Penulis: Arif Dilianto (Peneliti Isu Strategis dan Keamanan)


