BICARADATA.CO, SOSOK – Siapa yang tidak kenal sosok Raja Juli, semua bermula di Desa Pebaun Hilir, Kecamatan Lubuk Jambi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, nama keluarga Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, sudah termasyhur. Radja Ibrahim, sang kakek, merupakan tokoh Muhammadiyah pada tahun 1933. Sementara itu, ayahnya, Raja Ramli Ibrahim, juga dilahirkan di sana dan dikenal sebagai sesepuh masyarakat setempat.
Meski demikian, tidak banyak penduduk desa yang secara langsung mengenal sosok Raja Juli. Keluarga mereka telah lama pindah ke Pekanbaru, dan di kota itulah Raja Juli dilahirkan 49 tahun silam. Kepala Desa Pebaun Hilir, Alpines, mengatakan, “Rumah kakek-neneknya masih ada di sini, tapi itu pun tidak berpenghuni lagi,” saat dihubungi Tempo pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Kepopuleran Raja Juli di kalangan warga desa justru mulai terasa ketika ia menjabat sebagai Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional pada 2022. Namanya semakin melambung setelah ia dipercaya oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menduduki posisi Menteri Kehutanan pada Oktober 2024.
Sepanjang masa dewasanya, Raja Juli hanya satu kali mengunjungi Desa Pebaun Hilir, yaitu untuk menghadiri lomba adat pacu jalur atau perlombaan perahu panjang khas Kuantan Singingi.
“Kami sebagai masyarakat tentu bangga ada seorang warga kami yang menjabat menteri,” ucap Alpines. Mengenai kunjungan itu, Raja Juli turut mengabarkannya di akun media sosialnya pada 20 Agustus 2022.
Dalam unggahannya, ia menyatakan akan mengunjungi kampung halaman almarhum ayah dan ibunya untuk menghadiri acara pembukaan pacu jalur, seraya mengenang bahwa “Terakhir nonton masih SD,” tulis Raja Juli saat itu.
Nama Raja Juli dan Kabupaten Kuantan Singingi kembali menjadi sorotan pada awal Juli 2026, menyusul pengakuannya bahwa ia telah mengembalikan amplop yang diberikan oleh Bupati Kuantan Singingi, Suhardiman Amby. Komisi Pemberantasan Korupsi tengah menyelidiki hal ini, yang diduga berkaitan dengan proses pelepasan kawasan hutan dalam program Tanah Objek Reforma Agraria (TORA). Terkait hal itu, ia menegaskan, “Sudah saya kembalikan amplopnya,”
Pertemuan Raja Juli dengan Suhardiman Amby terjadi pada tahun lalu. Meskipun lahir di Pekanbaru, Raja Juli menempuh pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di Garut, Jawa Barat. Ia kemudian melanjutkan kuliah di Institut Agama Islam Negeri (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Tangerang Selatan, Banten.
Kiprah politiknya dimulai saat ia masih menjadi mahasiswa, dengan terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah periode 2000-2002. Posisi ini kemudian membuka jalannya untuk menjalin relasi dengan berbagai tokoh penting, seperti Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005, Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii), serta Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah, Jeffrie Geovanie.
Seorang pengurus Muhammadiyah mengungkapkan bahwa Syafii Maarif memiliki andil besar dalam keberhasilan Raja Juli melanjutkan studi ke University of Bradford, Inggris, melalui beasiswa Chevening Award pada 2004. “Karena itu, dia sempat dianggap sebagai anak kesayangan Buya Syafii,” tutur pengurus itu.
Kedekatan ini pula yang membawanya menduduki jabatan Direktur Eksekutif Maarif Institute, dan Syafii Maarif lah yang kemudian mendorongnya untuk terjun ke politik praktis dengan menitipkan Raja Juli kepada Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan kala itu, Taufiq Kiemas.
Seorang kader PDIP menyatakan bahwa Raja Juli bergabung dengan partai berlambang banteng tersebut pada 2007, bertepatan dengan pendirian Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) sebagai organisasi sayap Islam partai. “Buya dan Taufiq Kiemas memang sangat dekat,” ujar kader dan pengurus PDIP tersebut.
Karier politik Raja Juli di PDIP awalnya terbilang mulus. Meski baru dua tahun bergabung, ia langsung tercatat sebagai calon anggota legislatif dari PDIP dalam Pemilihan Umum 2009 untuk daerah pemilihan Jawa Barat IX, namun gagal melaju ke Senayan karena kalah perolehan suara dari dua kader senior partai di dapil tersebut.
Setelah kegagalan itu, ia mengambil studi doktoral di University of Queensland, Australia, pada 2010 dengan beasiswa dari Australian Development Scholarships. “Atas rekomendasi Pak Taufiq Kiemas,” kata kader PDIP lainnya.
Sepulang dari Australia, ia masih tercatat sebagai kader PDIP, namun aktivitasnya mulai surut setelah Taufiq Kiemas meninggal pada 2013. Ia pun gagal maju lagi sebagai calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan dalam Pemilu 2014. Beberapa bulan setelah pemilu, ia memutuskan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) setelah menerima tawaran dari mentornya di Muhammadiyah dan Maarif Institute, Jeffrie Geovanie.
Ketika Tempo temui di kantornya pada Rabu, 5 Agustus 2026, Raja Juli tak mau berkomentar. Surat permohonan wawancara yang dilayangkan pun tak berbalas. Ditemui terpisah, dua mantan kader PSI menceritakan bahwa Jeffrie langsung merekrut Raja Juli karena dinilai sebagai anak muda yang memahami cara mengelola organisasi, terlebih saat itu PSI lebih banyak diisi oleh orang-orang yang minim pengalaman berorganisasi. Ia pun langsung mengisi posisi Sekretaris Jenderal.
Raja Juli menduduki posisi Sekretaris Jenderal hingga 2021. Pada masa itu, jabatan Ketua Umum beralih dari Grace Natalie kepada Giring Ganesha, dan posisi Sekjen diisi oleh Dea Tunggaesti, sementara Raja Juli didapuk menjadi anggota Dewan Pembina. Namun, ia kembali menjabat sebagai Sekretaris Jenderal setelah kepemimpinan PSI beralih kepada putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, pada 2023.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengklaim tak mengetahui perjalanan politik Raja Juli di partai merah dan meminta hal itu ditanyakan langsung kepada Ketua Pengurus Pusat Bamusi periode 2007-2012, Ahmad Basarah. Namun, Basarah tak kunjung merespons permintaan wawancara yang dikirim ke nomor teleponnya.
Editor: Redaksi


